KOTAK PENCARIAN GOOGLE


Senin, 15 November 2010

KEYAKINAN BERAGAMA BERDAMPAK POSITIP PADA PASIEN YANG MENJALANI OPRASI BERAT

/*
KEYAKINAN BERAGAMA BERDAMPAK POSITIP PADA PASIEN YANG MENJALANI OPRASI BERAT

Ketika seseorang mengalami masalah kesehatan yang membuatnya stres, ternyata baik atau buruk keyakinan mereka akan agamanya sangat menentukan berhasil atau tidaknya terapi pengobatan yang dilakukan padanya.

Didalam hal ini para peneliti termasuk profesor Amy Ai, PhD. darii University of Washington School of Social Work telah memperoleh kenyataan bahwa dampak buruk yang dialami oleh mereka yang memiliki iman baik ternyata lebih sedikit daripada yang dialami oleh mereka yang imannya kurang begitu baik.

Tim profesor Ai telah mempelajari keadaan dari 309 orang pasien yang terpaksa harus menjalani oprasi jantung besar di University of Michigan Medical Center di tahun 1999 dan 2002.

Hasil penelitian tersebut telah pada konvensi American Psychological Association.di New Orleans tahun 2006

Usia para pasien tersebut pada saat itu berkisar antara 33 hingga 89 tahun (atau memiliki usia rata-rata 62tahun), sedangkan agama yang mereka anut adalah :

• Kristen 83%
• Jahudi: 3%
• Muslim kurang dari 1%
• Lain-lain 3%
• Tidak ada preferensi: 10%

Para pasien tersebut diwawancarai sebelumnya sebanyak dua kali yaitu sekali dengan cara tatap muka langsung, dan sekali lagi dengan melalui telepon pada saat sebelum mereka menjalani operasi. Serta survey mengenai hasilnya dilakukan sekitar 36 hari setelah mereka menjalani operasi mereka.

Wawancara yang dilakukan sebelum menjalani oprasi, ditujukan agar dapat mengetahui baik atau tidaknya iman mereka dalam beragama, seperti :

• Mereka digolongkan sebagai beriman baik atau positip, jika mereka saat itu mohon untuk dimaafkan oleh sekitarnya, mohon dukungan doa, serta tetap setia pada keyakinan agamanya.

• Mereka digolongkan sebagai beriman kurang baik atau negatip, jika mereka merasa tidak diperlakukan secara adil, marah kepada Tuhan, serta mempertanyakan bukti positip kasih Tuhan.

Sedang faktor lain yang juga turut diukur adalah harapan yang mereka miliki serta dukungan doa yang mereka minta sebelum menjalani oprasi.

Ternyata hasil yang diperoleh telah menunjukan bahwa pada mereka yang beriman baik dampak buruk yang dialaminya setelah menjalani oprasi jauh lebih kecil dari mereka yang beriman kurang baik.

Dukungan sosial yang diberikan serta harapan baik yang dimiliki oleh mereka yang beriman baik ternyata menunjukan telah membawakan hasil yang juga positip.

Hingga nampaknya iman yang dimiliki oleh para pasien sudah sepantasnya untuk memperoleh perhatian khusus dari setiap tenaga kesehatan.

SUMBER ASLI: American Psychological Association Convention 2006, New Orleans, Aug. 10-13, 2006. News release, American Psychological Association.
Dialihbahasakan dan disarikan oleh WS Djaka Panungkas dari tulisan Miranda Hitti dalam Oleh WebMD Medical News yang dikaji ilang oleh Louise Chang, MD
KEYAKINAN BERAGAMA BERDAMPAK POSITIP PADA PASIEN YANG MENJALANI OPRASI BERAT

Ketika seseorang mengalami masalah kesehatan yang membuatnya stres, ternyata baik atau buruk keyakinan mereka akan agamanya sangat menentukan berhasil atau tidaknya terapi pengobatan yang dilakukan padanya.

Didalam hal ini para peneliti termasuk profesor Amy Ai, PhD. darii University of Washington School of Social Work telah memperoleh kenyataan bahwa dampak buruk yang dialami oleh mereka yang memiliki iman baik ternyata lebih sedikit daripada yang dialami oleh mereka yang imannya kurang begitu baik.

Tim profesor Ai telah mempelajari keadaan dari 309 orang pasien yang terpaksa harus menjalani oprasi jantung besar di University of Michigan Medical Center di tahun 1999 dan 2002.

Hasil penelitian tersebut telah pada konvensi American Psychological Association.di New Orleans tahun 2006

Usia para pasien tersebut pada saat itu berkisar antara 33 hingga 89 tahun (atau memiliki usia rata-rata 62tahun), sedangkan agama yang mereka anut adalah :

• Kristen 83%
• Jahudi: 3%
• Muslim kurang dari 1%
• Lain-lain 3%
• Tidak ada preferensi: 10%

Para pasien tersebut diwawancarai sebelumnya sebanyak dua kali yaitu sekali dengan cara tatap muka langsung, dan sekali lagi dengan melalui telepon pada saat sebelum mereka menjalani operasi. Serta survey mengenai hasilnya dilakukan sekitar 36 hari setelah mereka menjalani operasi mereka.

Wawancara yang dilakukan sebelum menjalani oprasi, ditujukan agar dapat mengetahui baik atau tidaknya iman mereka dalam beragama, seperti :

• Mereka digolongkan sebagai beriman baik atau positip, jika mereka saat itu mohon untuk dimaafkan oleh sekitarnya, mohon dukungan doa, serta tetap setia pada keyakinan agamanya.

• Mereka digolongkan sebagai beriman kurang baik atau negatip, jika mereka merasa tidak diperlakukan secara adil, marah kepada Tuhan, serta mempertanyakan bukti positip kasih Tuhan.

Sedang faktor lain yang juga turut diukur adalah harapan yang mereka miliki serta dukungan doa yang mereka minta sebelum menjalani oprasi.

Ternyata hasil yang diperoleh telah menunjukan bahwa pada mereka yang beriman baik dampak buruk yang dialaminya setelah menjalani oprasi jauh lebih kecil dari mereka yang beriman kurang baik.

Dukungan sosial yang diberikan serta harapan baik yang dimiliki oleh mereka yang beriman baik ternyata menunjukan telah membawakan hasil yang juga positip.

Hingga nampaknya iman yang dimiliki oleh para pasien sudah sepantasnya untuk memperoleh perhatian khusus dari setiap tenaga kesehatan.

SUMBER ASLI: American Psychological Association Convention 2006, New Orleans, Aug. 10-13, 2006. News release, American Psychological Association.
Dialihbahasakan dan disarikan oleh WS Djaka Panungkas dari tulisan Miranda Hitti dalam Oleh WebMD Medical News yang dikaji ilang oleh Louise Chang, MD

Tidak ada komentar:

UNTUK MENCAPAI SERTA MEMPERTAHANKAN SUATU KEPULIHAN

  1. Sadari sepenuhnya bahwa sebenarnya tubuh Anda memiliki proses-proses alami yang bila dicermati benar-benar, ternyata bahwa proses-proses tersebut memiliki kinerja yang bersifat memelihara, melindungi serta memulihkan dirinya.
  2. Sadari sepenuhnya akan ke-Maha Pengasihan Tuhan, dengan menyadari bahwa sebagai “Yang Maha Pengasih walau dengan alasan apapun pasti tidak akan membiarkan yang dikasihi oleh-Nya sampai harus mengalami penderitaan (cobalah cermati kinerja proses-proses tubuh kita tersebut, yang diciptakan-Nya sebagai bukti dari Ke Maha Pengasihan-Nya tersebut, yang menunjukan bahwa Dia tidak menginginkan sampai kita menghadapi masalah, penderitaan maupun penyakit).
  3. Sadari bahwa setiap masalah atau penyakit sebenarnya merupakan sesuatu yang terjadi jika kita salah didalam berpola pikir serta berpola makan, akibat lebih bertolok ukurkan pada upaya-upaya untuk memuaskan serta menyenangkan diri dari pada bertolok ukurkan pada pola yang dikehendaki-Nya untuk kita lakukan didalam memelihara serta menjaga keutuhan tubuh kita tersebut dengan selalu menerapkan kehendak-Nya didalam setiap gerak langkah yang kita lakukan didalam kehidupan kita sejak saat kita berpikir.
  4. Upayakan agar jangan menilai berlebihan apapun atau siapapun, tapi usahakanlah untuk dapat selalu menciptakan kehidupan yang bertolok ukurkan pada upaya-upaya untuk menciptakan kehidupan bersama yang saling mengasihi atau saling tidak menciptakan masalah satu sama lain. Jadi, hindari penerapan sikap serta prilaku tolok ukurnya berdasarkan pementingan, pemuasan, serta penyenangan diri, keluarga, golongan, agama dan lain-lainnya.
  5. Berpeganglah pada suatu prinsip bahwa apapun yang akan kita lakukan harus selain akan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita, juga harus jangan sampai bisa menimbulkan masalah bagi pihak yang lain.
  6. Jangan terlalu mempermasalahkan apapun termasuk apa yang diperbuat oleh orang lain. Tetapi, ingatlah selalu bahwa demi dapat menciptakan ketentraman hidup bersama pihak lain, awalilah menciptakannya melalui pengelolaan pola berpikir serta pola bertindak diri kita sendiri.
  7. Tinggalkan pola makan serta minum yang cenderung didasari oleh keinginan untuk dapat memenuhi selera, rasa menyukai atau karena ingin mengikuti mode agar tidak disebut ketinggalan jaman saja, mengingat bermanfaat atau tidaknya yang tergantung dari dibutuhkan atau tidaknya oleh proses-proses tubuh pada saat itu.
  8. Jangan sampai berpikir tentang apa yang harus dilakukan oleh orang lain maupun diri kita sendiri agar kita mencapai kepuasan atau kesenangan. Tetapi pikirkanlah apa yang harus kita lakukan agar kita dapat hidup tentram dan damai dengan siapapun.

Sekar Kinasih Healing Therapy

Sistim pemulihan melalui pengelolaan pola berpikir dan pola makan/minum

GRATIS KONSULTASI JARAK JAUH

UNTUK INFORMASI TERAPI JARAK JAUH, SILAHKAN MENGHUBUNGI :

mindhealingtherapy@yahoo.com



,